Menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia atau KBBI, sukses itu berarti berhasil. Ya berhasil dalam hal
apapun, Entah dalam hal pendidikan, pekerjaan yang mapan, gaji yang tinggi dan
tidak menutup kemungkinan sukses dalam hal asmara.
Sukses saat aku
masih di sekolah dasar adalah ketika aku bisa berhitung pembagian. Memang kedengarannya
aneh tapi namanya sukses seseorang kan berbeda-beda. Selain itu saat duduk di
bangku sekolah dasar aku juga bisa mendapatkan rangking 1 dalam kelas dan itu
bertahan hingga aku lulus dari kelas 6. Ya, menurutku itu bagus sekali bukan.
Tetapi, berbeda
saat aku duduk di bangku SMP. Diawal saat masuk sampai kelas 2 SMP aku masih
mendapat rangking 1 tapi untuk semester 1 aku harus puas dengan rangking ke-2 dan
yang mengalahkanku adalah seorang wanita. Tetapi aku tak mau kalah hingga aku
mendapatkan rangking 1 lagi di semester kedua bahkan siswa dengan nilai
tertinggi di kelas 2 SMP. Dan hal itu tetap berlanjut sampai aku lulus kelas 3 SMP.
Ketika aku duduk
di bangku SMA, aku mendapatkan predikat siswa terbaik yang memang aku impikan
sejak aku sekolah dasar karena kakakku lah yang membuat aku menjadi terpacu
untuk belajar dan menjadi siswa terbaik karena dulunya dia adalah siswa terbaik
saat masih SMA.
Selepasnya dari
bangku SMA, aku sempat berkuliah sekitar sebulan, dan memang karena biaya
sehingga aku lebih memilih untuk berhenti kuliah dan melanjutkan untuk bekerja.
Kemudian, setelah
aku berhenti kuliah aku meneruskan untuk ikut seleksi masuk menjadi pekerja Pertamina.
Ya. Dengan ijazah SMA aku melamar menjadi pekerja Pertamina. Dan kemudian aku
lolos seleksi menjadi pekerja Pertamina, namun harus mengikuti pendidikan
terlebih dahulu yaitu meliputi pendidikan fisik, mental, dan tentunya
pengetahuan tentang Pertamina dan tentang pekerjaan yang akan didapatkan
nantinya. Memang sih saat itu selain karena biaya, tetapi aku juga bertekad
ingin menikahi seseorang wanita yang kucinta. Tapi bukan itu poinnya. Demi keluarga,
yang mana aku itu anak ketiga dari empat bersaudara dan masih memiliki adik
yang masih sekolah di bangku SMA. Oleh sebab itu pula aku memilih untuk
bekerja.
Sebelum aku
disahkan menjadi karyawan Pertamina, dalam benakku selalu bertanya. Apa yang
akan aku kerjakan dengan hanya bermodalkan ijazah SMA? Apakah aku akan sanggup
jika kerjaan itu kasar? Kembali lagi aku teringat akan ayah dan ibuku juga
adikku yang masih sekolah. Apapun yang aku kerjakan nantinya, akan aku lakukan.
Selama itu halal demi keluarga.
Entahlah apakah
benar yang aku pilih ini? Ataukah hanya sebagai pelarian semata agar tak dicap
sebagai orang yang gagal? Sudahlah, semua sudah terjadi dan sekarang aku adalah
pekerja Pertamina. Meskipun pekerjaan saya hanya sebagai operator lapangan
tetapi bisa untuk membantu kedua orang tuaku membiayai sekolah adikku hingga
kuliah.
Sekarang adikku
sudah kuliah, meskipun bukan semuanya dariku. Tapi aku merasa bangga dan bukan
karena hal itu saja yang membuat aku bangga. Tetapi karena bisnis Pertamina ini
adalah untuk ketahanan enargi di Indonesia. Yang berarti aku juga turut andil
dalam memutar roda pembangunan di Indonesiaku ini.
Oleh karena dua
hal tadi menjadikanku berpikir bahwa sebenarnya pahlawan itu nyata. Pahlawan Pertamina
yang bagiku itu membantu perekonomian keluarga dan ikut andil dalam pembangun
negeri tercinta. Ya itulah sukses terbesarku, menjadi “Pahlawan Pertamina”. Pahlawan
bagi keluarga dan negara.
#pertaminaemployeejournalism
#EnergiUntukMaju
@pertamina